tentang penulis

Sabtu, 05 April 2014

Jum'at, 23 September 2005 08:17 | 
Putu Wijaya

http://klimg.com/kapanlagi.com/p/putu_wijaya.jpg
Kapanlagi.com - Sastrawan yang produktif dalam meciptakan karya eksperimental, Putu Wijaya, menilai cara bangsa Indonesia memperkenalkan diri ke mancanegara sudah terlalu kuno.
"Selama ini Indonesia dikenal di luar negeri sebagai timbunan tradisi, karena kita hanya menjual kekunoan kita, bahwa kita masih hidup primitif, itu yang dijual. Sehingga yang dicari mereka cuma itu. Mungkin cara kita mengenalkan Indonesia sudah terlalu kuno," kata Putu seusai jumpa pers di Jakarta, Kamis (21/9), menyangkut keberangkatan Teater Mandiri pimpinannya ke Kairo, Mesir untuk mengikuti festival teater.
Laki-laki yang selalu memakai topi pet itu mencontohkan, dalam dunia teater, Indonesia jarang diundang dalam festival-festival internasional, kerena dunia teater internasional mengenal Indonesia hanya dengan teater-teater tradisinya seperti wayang. Bahkan, katanya, banyak orang mancanegara yang mengira di Indonesia tidak ada sastra modern, yang ada hanya sastra tradisi.
"Mereka banyak yang tidak tahu bahwa Garin Nugroho sudah buat film dan berbicara di forum-forum internasional. Dan, saya bisa main di mana-mana karena bukan menampilkan teater tradisional, tapi teater eksperimental yang bagi selera mereka masuk," ujar pria kelahiran Puri Anom, Tabanan, Bali itu.
Namun bukan berarti bahwa Putu menentang misi-misi budaya yang menampilkan pertunjukan-pertunjukan tradisional Indonesia. Ia hanya mengharapkan lebih banyak lagi seniman dengan karya-karya kontemporer, ekprerimantal dan seni modern lainnya memberanikan diri untuk tampil di mancanegara.
Putu sendiri telah dengan berani tampil bersama Teater Mandirinya yang eksperimental ke negara-negara seperti Jepang, Amerika Serikat, Beograd, Hongkong, Taipe, dan apresiasi mereka terhadap pementasannya tidak buruk.
"Waktu pentas di Tokyo mereka pernah mengira saya membawa lampu laser, padahal saya bawa lampu biasa, layar biasa. Itu hanya kerena efeknya seperti laser, padahal hanya lampu biasa yang dipegang oleh tangan-tangan pemain yang kalau dikombinasikan dengan lampu ultra hingga menjadi seperti lampu laser," ceritanya mengenai salah satu pentas di mancanegara.
Teater Mandiri, diakui Putu memang tidak pernah memakai properti yang rumit dan mahal dalam petasnya, "Jadi ongkos produksinya murah. Kami hanya bertolak dari yang ada." (*/dni)

Lihat profil: Putu Wijaya
Diposting oleh: Editor | http://s7.addthis.com/button1-addthis.gif


Putu Wijaya


Kapanlagi.com - Sastrawan serba bisa Putu Wijaya (61) berpendapat reformasi yang bergulir sejak 1997 tidak gagal, meskipun hingga kini kondisi bangsa Indonesia tidak bertambah baik.
"Menurut saya, reformasi itu tidak gagal. Reformasi itu menyebabkan kita jadi lebih transparan untuk melihat wajah kita sebenarnya, memang menyakitkan," kata Putu saat ditemui di sanggar latihan Teater Mandiri, Rabu (13/7).
Penulis yang sangat produktif itu (ia menghasilkan kurang lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel lepas, dan kritik drama) melihat, sejak 1997 segala yang buruk telah terjadi di Indonesia. Resesi ekonomi, kekacauan politik, malapetaka bom, perpecahan etnik, agama, tsunami, dan terakhir pada puncaknya ternyata yang terlibat adalah korupsi.
"Itu bukan kegagalan reformasi, tapi itu wajah kita sesungguhnya yang baru dapat terlihat sesudah reformasi. Kalau kita berhenti hanya melihat saja, di situlah baru kita dikatakan gagal," ujar pemilik nama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang selalu bertopi pet itu.
Melihat kondisi negeri yang demikian, ayah satu anak itu itu kemudian memutuskan membuat suatu pementasan berjudul Jangan Menangis Indonesia untuk mengajak masyarakat melihat apa yang sebenarnya terjadi, untuk sama-sama menatap kenyataan, dan kemudian bersatu.

"Seringkali kita dapat bersatu bila memiliki musuh yang sama. Dulu musuh kita kolonialisme, sekarang kebrengsekan moral. Kita sudah brengsek semua, saya bilang kita berarti saya juga termasuk," ujarnya menambahkan.
Putu Wijaya Berharap Sastra Indonesia Mendunia


Kapanlagi.com - Menyebut nama Putu Wijaya tentu langsung terbesit dunia sastra Indonesia. Namun, seperti kita ketahui dunia sastra belum banyak menjanjikan kesejahteraan bagi penulis di Indonesia. Meski begitu Putu tidak merasa kecewa.
"Saya tidak tahu berapa finansial yang dihasilkan. Karena biasanya saya diterjemahkan itu sudah luar biasa senangnya. Saya ini katrok, kalau mau cari uang saya lebih menekankan ke penulisan skenario sinetron," ujar Putu Wijaya ditemui Kamis 19 Mei, di toko buku Aksara, Grand Indonesia, Jakarta.
Geliat menulis sastra menurutnya tidak pernah pudar karena di mata dunia, sastra Indonesia belum banyak dikenal.
"Ketika saya pergi ke luar negeri tahun 1995, saya pergi ke festival penulis seluruh dunia. Seorang penulis negro menanyai saya apakah ada sastrawan di Indonesia. Saya marah, tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Buku-buku Pram sama YB Mangunwijaya memang ada di sana yang sudah diterjemahkan. Tapi nggak laku karena tidak ada referensi buku yang lain," paparnya.
Karena itu saat bukunya Telegram diterjemahkan dalam bahasa Inggris di seri Modern Library of Indonesia, Putu merasa senang. "Semoga dunia bisa melihat kekayaan sastra di Indonesia lewat seri ini," harapnya.
Buku Telegram sendiri juga difilmkan oleh Slamet Rahardjo. Untuk skenarionya Putu sendiri yang menuliskannya. Namun hingga film ini keluar dia tak pernah menonton film tersebut sama sekali.
"Saya buat sendiri skenario. Tapi ketika dibuat sinematografi oleh Slamet itu sudah berbeda sama sekali. Makanya saya tidak pernah nonton film itu, takut saya," kelakarnya.   (kpl/uji/faj)