Jum'at, 23 September 2005 08:17 |
Putu Wijaya

Kapanlagi.com - Sastrawan yang produktif dalam meciptakan karya
eksperimental, Putu Wijaya, menilai cara bangsa Indonesia memperkenalkan diri ke
mancanegara sudah terlalu kuno.
"Selama ini Indonesia dikenal di luar negeri
sebagai timbunan tradisi, karena kita hanya menjual kekunoan kita, bahwa kita
masih hidup primitif, itu yang dijual. Sehingga yang dicari mereka cuma itu.
Mungkin cara kita mengenalkan Indonesia sudah terlalu kuno," kata Putu seusai
jumpa pers di Jakarta, Kamis (21/9), menyangkut keberangkatan Teater Mandiri
pimpinannya ke Kairo, Mesir untuk mengikuti festival teater.
Laki-laki yang selalu memakai topi pet itu
mencontohkan, dalam dunia teater, Indonesia jarang diundang dalam
festival-festival internasional, kerena dunia teater internasional mengenal
Indonesia hanya dengan teater-teater tradisinya seperti wayang. Bahkan, katanya,
banyak orang mancanegara yang mengira di Indonesia tidak ada sastra modern,
yang ada hanya sastra tradisi.
"Mereka banyak yang tidak tahu bahwa Garin
Nugroho sudah buat film dan berbicara di forum-forum internasional. Dan,
saya bisa main di mana-mana karena bukan menampilkan teater tradisional, tapi
teater eksperimental yang bagi selera mereka masuk," ujar pria kelahiran
Puri Anom, Tabanan, Bali itu.
Namun bukan berarti bahwa Putu menentang
misi-misi budaya yang menampilkan pertunjukan-pertunjukan tradisional
Indonesia. Ia hanya mengharapkan lebih banyak lagi seniman dengan karya-karya
kontemporer, ekprerimantal dan seni modern lainnya memberanikan diri untuk
tampil di mancanegara.
Putu sendiri telah dengan berani tampil bersama Teater
Mandirinya yang eksperimental ke negara-negara seperti Jepang, Amerika Serikat,
Beograd, Hongkong, Taipe, dan apresiasi mereka terhadap pementasannya tidak
buruk.
"Waktu pentas di Tokyo mereka pernah mengira saya
membawa lampu laser, padahal saya bawa lampu biasa, layar biasa. Itu hanya
kerena efeknya seperti laser, padahal hanya lampu biasa yang dipegang oleh
tangan-tangan pemain yang kalau dikombinasikan dengan lampu ultra hingga
menjadi seperti lampu laser," ceritanya mengenai salah satu pentas di
mancanegara.
Teater Mandiri, diakui Putu memang tidak pernah
memakai properti yang rumit dan mahal dalam petasnya, "Jadi ongkos
produksinya murah. Kami hanya bertolak dari yang ada." (*/dni)
Putu Wijaya
Kapanlagi.com - Sastrawan serba bisa Putu Wijaya (61) berpendapat reformasi yang bergulir sejak 1997
tidak gagal, meskipun hingga kini kondisi bangsa Indonesia tidak bertambah
baik.
"Menurut saya, reformasi itu tidak gagal.
Reformasi itu menyebabkan kita jadi lebih transparan untuk melihat wajah kita
sebenarnya, memang menyakitkan," kata Putu saat ditemui di sanggar latihan Teater Mandiri, Rabu
(13/7).
Penulis yang sangat produktif itu (ia menghasilkan kurang
lebih 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esei, artikel
lepas, dan kritik drama) melihat, sejak 1997 segala yang buruk telah terjadi di
Indonesia. Resesi ekonomi, kekacauan politik, malapetaka bom, perpecahan etnik,
agama, tsunami, dan terakhir pada puncaknya ternyata yang terlibat adalah
korupsi.
"Itu bukan kegagalan reformasi, tapi itu wajah
kita sesungguhnya yang baru dapat terlihat sesudah reformasi. Kalau kita
berhenti hanya melihat saja, di situlah baru kita dikatakan gagal," ujar
pemilik nama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya yang selalu bertopi pet
itu.
Melihat kondisi negeri yang demikian, ayah satu anak
itu itu kemudian memutuskan membuat suatu pementasan berjudul Jangan
Menangis Indonesia untuk mengajak masyarakat melihat apa yang sebenarnya
terjadi, untuk sama-sama menatap kenyataan, dan kemudian bersatu.
"Seringkali kita dapat bersatu bila memiliki
musuh yang sama. Dulu musuh kita kolonialisme, sekarang kebrengsekan moral.
Kita sudah brengsek semua, saya bilang kita berarti saya juga termasuk,"
ujarnya menambahkan.